Ciye's Blog

another different way of thinking.. because i am unique

Malaysia on Talk 1 : Transportasi March 29, 2011

Filed under: A piece of memory — ciye @ 1:20 pm

Tanah airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

-Ibu Sud

Menyanyikan lagu nasional di negeri orang memang akan memberikan rasa yang berbeda. Pun demikian dengan saya, lagu tanah airku ini menjadi begitu berbeda. Ada haru menyesak, dibumbui kerinduan akan kampung halaman *jyaaah. Dan saya pun sepakat dengan Ibu Sud, tanah airku, kampung halamanku tidak akan terlupa…

Yah, seperti sekarang saya merasakan hidup di negeri orang (hampir 3 tahun saya disini) tapi tetap saja hari-hari saya diwarnai dengan kalimat “saya pengen pulaaang”.:P Nah, untuk membuktikan betapa mahsyur permai negeri lain di kata orang maka ijinkan saya menceritakan sedikit mengenai negeri lain ini. Malaysia.

Salah satu hal yang saya kagumi dari Malaysia adalah fasilitas transportasi umumnya. Bagi saya yang notabene seorang mahasiswa yang selalu berkantong ngepas, maka transportasi umum seperti bis dan kereta api pun menjadi pilihan untuk berpergian. Apalagi tidak ada angkutan umum (angkot), ojek, atau becak yang bisa menjadi alternatif alat transportasi, tidak seperti di Indonesia.

Tiga bulan ini saya merasakan hidup di kota besar, Kuala Lumpur. Yah tiga tahun kebelakang saya berkutat di kampus yang nun jauh di ujung utara Malaysia dan mbelesek di tengah hutan, kampung halaman saya di Indonesia sana juga merupakan kota kecil (walaupun merupakan ibukota kabupaten). Jadi tiga bulan ini menjadi sebuah pengalaman baru untuk saya, mencicipi keganasan ibukota (walau saya yakin masih lebih ganas Jakarta)

Baik. Kembali ke topik.

Transportasi umum di Wilayah Persekutuan Kuala Lumpur (WPKL) diberi nama rapidKL (rapid = cepat). RapidKL terbagi ke dalam tiga jenis yaitu bis, monorail, dan LRT (Light Rail Transit). Untuk informasi lebih lengkap silakan akses website rapidKL, www.myrapid.com.my

Alat transportasi favorit saya adalah LRT.  Selain karena cepat, nyaman dan relatif aman, nama-nama stasiun-stasiun LRT jelas terpampang dan ada pemberitahuan nama stasiun berikutnya jadi saya tidak kesulitan untuk turun di stasiun yang tepat (ini sih karena saya hobi nyasar dan males nanya sebetulnya).

Terdapat  dua aliran LRT yang mempunyai destinasi yang berbeda yaitu  LRT Putra dan LRT Star. LRT Putra (lihat peta: garis warna pink) menghubungkan KL dengan daerah-daerah yang bertetangga dengan KL contohnya terdapat stasiun Gombak yang berada di kawasan Selangor (tetangga KL) sementara LRT Star (lihat peta:garis kuning) beroperasi di dalam Kuala Lumpur saja.

Jangan takut ketinggalan LRT, setiap beberapa menit sekali LRT akan datang dan pergi mengangkut penumpang.

Untuk naik LRT saya harus membeli tiket (bisa beli di kaunter atau beli di mesin tiket) atau membeli kartu touch n go dan hanya perlu mengisi ulang kredit di dalam kartu. Bagi para LRT-ers yang tiap pulang-pergi naik LRT maka akan lebih baik jika membeli kartu touch n go, lebih cepat (nggak perlu antri) dan mudah tinggal pip-pip saja. :D

Monorail (lihat peta:garis merah) adalah kereta api dengan satu rel. Daerah tujuan monorail lebih sempit, namun jangan salah, pengguna monorail tidak lebih sedikit dengan LRT. Ditambah lagi daerah-daerah yang dihubungkan oleh monorail adalah daerah tujuan shopping (terutama Bukit Bintang) karena itu pengguna monorail pun kebanyakan adalah turis asing.

Sebagai tambahan informasi, jalur bergaris biru (lihat peta) merupakan kereta api antar kota bernama Komuter (KTM). Fasilitas ini hampir mirip kereta api Jakarta-Bekasi, tapi dengan versi yang lebih oke. Hehe. Di setiap rangkaian terdapat satu gerbong khusus wanita yang berada di tengah rangkaian kereta api.

Sementara itu jalur berwarna hijau merupakan kereta api ekspres yang menghubungkan KL dengan Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA), hanya perlu sekitar 15 menit untuk sampai di bandara bandingkan dengan kalau menggunakan bus yang memakan waktu hampir satu jam. Tapi tentunya tarif tiket untuk kereta api ini cukup mahal (apalagi untuk mahasiswa seperti saya), RM35 (kalau naik bus RM9 saja. Hehe). Informasi lebih lanjut silakan cek website http://www.kliaekspres.com/.

Selain kereta api bus rapidKL pun menjadi pilihan untuk berpergian, walau terhambat juga kalau jalan macet tapi area yang dijelajahi bus tentunya lebih luas. Karena sistem rapid (cepat) maka bus ini tidak akan ngetem di halte bus. Sedikit Banyak berbeda dengan bus umum di Indonesia, bus rapid tidak menggunakan kondektur, harus bayar ketika menaiki bus dan kalau mau turun cukup menekan bel dan pasti berhenti di halte bus terdekat. Sekarang sistem pip-pip juga mulai diterapkan di bus dengan nama kartu rabbit (bit on entry, bit on exit, bit bit bit, so easy) yang bisa diisi ulang. Bus khusus wanita pun disediakan oleh rapidKL dengan jadwal tertentu.

Tapi saya masih saya bertahan dengan cara manual alias bertahan untuk tidak bikin kartu, yah, kalau bikin kartu kan berarti harus membiarkan sekian ringgit mendekam di dalam kartu itu sementara saya mungkin hanya sekali seminggu menggunakan transportasi umum. Secara kantor dan rumah bisa dijelajahi dengan transport andalan: jalan kaki!

Hanya satu pertanyaan yang terus melintas di pikiran saya ketika menaiki semua transportasi umum itu,”Kapan ya Indonesia bisa punya beginian?” He.

Tapi tetap saja seperti yang saya sampaikan di awal tulisan, LRT memang nyaman tapi tidak se-memorable kereta api kelas ekonomi yang dulu saya sering naiki ketika mudik. Bus rapid tidak bisa menyaingi kenangan berpeluh-peluh, berdempet-dempet, dan aroma campur baur angkutan umum yang saya naiki jaman SD dulu. :)

Walaupun banyak negri kujalani
Yang masyhur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang ~

Ciao.

 

“Ya Allah, Ampunilah aku jika Engkau berkehendak”,, ?? March 26, 2011

Filed under: Uncategorized — ciye @ 10:37 pm

Astaghfirullah, sungguh saya baru tahu. Selama ini kalau berdoa saya memohon kepada Allah dengan menambahkan lafazh “kalau Engkau menghendaki”, atau juga ketika mendoakan orang lain contohnya “semoga Allah berkehendak meluruskan niat kita”.. dll.

Wiiw, sedikit surprise ketika membaca sebuah artikel di www.muslimah.or.id dengan judul Doa dengan Lafazh “Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki”. Bukan, ini bukan tentang keinginan untuk merendahkan diri di hadapan Allah kemudian “menyopankan bahasa”. Yah, seperti yang saya baca di artikel tersebut, hei, Dia yang sedang kita bicarakan.

Allah yang Maha Pemberi, pemberian-Nya tiada habisnya. Sejak kita lahir sampai kita masih bisa menghirup nafas dan mengeja tiap huruf di hadapan kita ini. Maka seharusnya bagi orang yang meminta kepada Allah, hendaklah ia berkeinginan kuat dalam permohonannya karena sesungguhnya Allah tidak memberikan sesuatu kepada hamba-Nya dalam keadaan terpaksa ataupun menganggap besar permintaan itu (muslimah.or.id)

Diriwayatkan dalam sebuah hadits “Tangan kanan Allah penuh, tidak akan membuatnya berkurang sebuah nafkahpun, terbuka siang dan malam. Tahukah kalian apa yang telah diinfakkan semenjak penciptaan langit dan bumi? Itu semua tidak mengurangi apa yang ada di tangannya. Dan pada tangan yang lain ada neraca keadilan, Allah merendahkannya dan mengangkatnya.” (HR. Bukhari -diberbagai tempat dalam Al Jami’-, dan Muslim dari Abu Hurairah).

Bahkan Rasulullah pun pernah bersabda mengenai hal ini (saya baru tahu hadist ni, huhu)

Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu menuturkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah salah seorang diantara kamu berdoa, ‘Ya Allah ampunilah aku jika Engkau menghendaki’ atau berdoa, ‘Ya Allah, limpahkanlah rahmatMu kepadaku jika Engkau menghendaki’, tetapi hendaklah ia berkeinginan kuat dalam permohonan itu, karena sesungguhnya Allah tiada sesuatupun yang memaksa-Nya untuk berbuat sesuatu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

So, buanglah kata kehendak itu. Karena Allah pasti berkehendak memberi untuk makhluk-Nya bahkan tanpa perlu kita meminta (bayangkan matahari yang terbit dan tenggelam siang-malam, oksigen yang kita hirup setiap detik, dan begitu banyak nikmat-Nya yang begitu luar biasa yang bahkan tidak kita minta dalam doa-doa panjang kita).

 

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah datangnya, dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nyalah kamu minta pertolongan.” (Qs. An-Nahl (16) : 53)

 

Tulisan Sederhana March 23, 2011

Filed under: my thought — ciye @ 12:09 am

Memang adalah Allah Azza Wa Jalla yang begitu pemurah dan berkasih sayang. Dia menunjukkan jalan-Nya tanpa terduga, hanya diperlukan cukup kebijakan melihat sebuah rahasia indah dibalik setiap episode hidup. Ya, sebuah hikmah.

“Ga boleh ya hidup sederhana saja?” seorang teman pernah bertanya padaku.

Segera aku panik, jawaban apa yang bisa kuberikan? Ya, walau aku tahu itu retoris. Hey, aku tidak pernah berpikir mengenai hal itu sebelumnya. Otakku blur, pandanganku menerawang saat itu juga. Boleh tidak ya? Yah, setidaknya aku merasa sudah memberikan jawaban terbaik yang bisa aku berikan saat itu. Sebuah cengiran!

Adalah aku yang kemudian berpikir siang-malam, tak peduli sedang makan, mandi, mencuci, bah sudah seperti orang jatuh cinta saja. Setiap waktu memikirkan si dia. Yah, ini episode-ku bersama si dia bernama sederhana. Sungguh setiap huruf kata itu menari-nari di otakku, sebuah tarian tantangan supaya segera menemukan arti dirinya.

Dan kemudian orang-orang dan setiap bacaan rutinku pun ikut-ikutan berkomplot dengannya. Hey, apa itu sederhana? Tidak bisakah kalian beritahu saja apa artinya secara gamblang? Bah.

Sebuah kesimpulan pernah kudapatkan, hasil membiarkan si sederhana bermain ice-skating di otak beku-ku. Paling tidak lampu si Linglung di serial Donal Bebek pernah menyala di luar kepalaku. Bentuknya sama dimana-mana ternyata. Lampu yang tiba-tiba bersinar dan berbunyi cling, tidak lupa diiringi senyum riang penuh arti.

Kesimpulan yang sederhana saja; sederhana tidak akan lepas dari kompleksitas. Karena dengan mengetahui kompleksitas hidup maka kau akan tahu apa artinya sederhana. Ya aku setuju sekali dengan kesimpulan ini, haha, maaf tentu saja aku setuju bukankah kesimpulan ini adalah pendapatku. Aku tidak menjamin hal itu benar adanya. Walau kalau di logika benar juga, haha, aku tidak bermaksud memaksakan pendapatku tapi karena itu pendapatku maka aku akan mempertahakannya sampai hidayah datang padaku. Mungkin dengan bentuk sebuah kesimpulan baru. :)

Ah ya, memang semakin tua maka hidup semakin kompleks. Bagaimana tidak, banyak orang ditemui, banyak masalah dihadapi, banyak hati harus dimakan mentah-mentah, semakin banyak maka semakin ruwet. Kompleks. Semakin kompleks hidup yang harus dihadapi maka akan membuat pikiran ikut-ikutan menjadi semakin kompleks. Pikiran yang kompleks bisa jadi mendewasakan mental atau justru membuat pemiliknya lari terbirit-birit, malas menghadapi kompleksitas. Tapi memang begitulah adanya hidup. Kompleks. Siapa bilang sederhana? Siapa pula yang bilang tidak sederhana? Haha.

Lalu tidak bolehkah menjadi sederhana? Haha. Sungguh pertanyaan ini berputar dikepalaku hingga saat ini. Dan masih hanya cengiran yang bisa aku berikan sebagai jawaban. Pernahkah kau merasa rindu dengan kepolosan masa kecil? Hidup tak berbeban ditemani tawa lepas dan kejahilan sengaja tidak menuruti perintah ibu?

Yah, mungkin karena itulah senyum anak kecil begitu menenangkan -paling tidak untuk aku-. Senyum sederhana, tingkah sederhana, kosakata sederhana, keinginan sederhana, segalanya serba sederhana. Dunia pun terasa sederhana. Aku pikir saat itulah dunia terletak di tangan, seperti barang yang kalau hilang atau jatuh hanya perlu diambil lagi atau dicari lagi. Sederhana bukan?

Aku ingin menulis dengan sederhana saja. Tapi apakah ini sederhana? Haha. Aku tidak tahu, itu tergantung kau yang membaca. Sederhana atau tidak sederhana ya terserah saja, bukan aku tidak peduli pada pandangan kau tapi ya siapalah aku bisa memaksakan bahwa ini sederhana?

A: Seperti apakah sederhana?

U: Bisakah pertanyaan itu disederhanakan saja?

B: Bagaimana menjadi sederhana?

U: Bisakah hal itu disederhanakan juga?

Kesederhanaan itu memukau, siapa yang tidak tertarik dengan kesederhanaan? Semua orang pasti tersentuh mendengar cerita sederhana, bahasa sederhana, sentuhan sederhana, pemikiran sederhana, kebahagiaan yang sederhana, tangis sederhana, polah sederhana, dan kesederhanaan itu sendiri. Yah kecuali mereka yang mungkin hatinya sudah hitam legam penuh kerak dosa yang mengeras menolak mentah-mentah ketukan hidayah yang Allah perintahkan untuk dijemput.

Maka ijinkan aku menutup tulisan ini dengan sederhana.

Maka cukup.

 

Menganalogikan Sepotong Kerak March 21, 2011

Filed under: masak memasak,my thought — ciye @ 10:55 pm

Suatu hari saya berhasil menggosongkan wajan (penggorengan-red.) milik housemate saya. Hahaha.

Rencananya siy bikin tahu bacem, tapii dengan pintarnya tahu bacem saya ubah menjadi tahu kerak. Walaupun masih bisa dimakan dan justru bagian yang gosong yang enak. :P

Kronologisnya begini, suatu hari saya tiba-tiba ingin makan tahu bacem kemudian saya masukkan kata kunci tahu bacem di mesin pencari google. Setelah saya dapatkan resepnya, dengan riang gembira capek tapi gembira lebih tepatnya maka saya segera mengeksekusi dua buah tahu putih yang seakan tersenyum pasrah dijadikan bahan eksperimen saya. Saya meninggalkan kedua tahu-putih-pasrah tersebut tenggelam di penggorengan beserta bumbu-bumbu lengkapnya (direbus), kemudian saya asyik mengupas bawang putih. Tanpa terasa tiba-tiba hidung saya mencium aroma sedap, wah baunya enak kata batin saya. Tidak berapa lama kemudian, tunggu dulu!! Sepertinya ada yang tidak beres. Saat saya tengok ke dalam penggorengan, buhaha, tahu-putih-pasrah sudah menjadi tahu-hitam-memelas. Xixixi. Dan ternyata dapur sudah penuh asap. Hew~ nambah gawean (nambah kerjaan-red.).

Tahu berhasil diselamatkan, walaupun tidak indah lagi bentuknya dan selamat juga masuk ke mulut dan rest in peace di lambung saya. Yeay!

Netnotnetnot!! Apa kabar si penggorengan malang?

Sudah saya coba di utik-utik pakai pisau, pakai soled (alat untuk menggoreng), saya rendam, dsb tapi tetap saja kerak hitam tersebut masih juga bercokol dengan manis di penggorengan tersebut. Bahkan saya sampai tidur jam dua pagi. Akhirnya malam itu saya menyerah.

Pagi harinya kembali saya beraksi mencoba menghilangkan kerak hitam menganggu itu. Alhamdulillah berhasil (ternyata harus direbus dulu). Walaupun betul-betul harus ekstra usaha menggosok kerak tersebut dengan spons kawat. Kalau di Indonesia mungkin bisa dibantu dengan menggunakan abu gosok, tapi saya tidak tahu apakah ada benda bernama abu gosok di Malaysia ini. Oh, mungkin ada tapi saya tidak tahu. Ah, never mind.

Tiba-tiba terbetik di pikiran saya,

Hey, itu baru kerak di penggorengan gara-gara gosong.

Bagaimana dengan hati kita ketika riya, sombong, ujub, dengki dan segala penyakit hati sudah mengerak di tiap sudut dinding hati? Berapa tahun kita hidup ya? Heu, perlu berapa lama waktu yang diperlukan untuk menggosoknya sampai mengkilat? Iya kalau bisa dibersihkan sampai cling, kalau tetap saja membandel? Na’udzubillah.

Semoga Allah masih menjaga hati kita sehingga hidayah-Nya masih bisa menembus dan melembutkan hati kita. Aamiin.

“Ketauhilah bahwa dalam tubuh terdapat sepotong daging yang jika baik, akan baiklah seluruh jasad. Dan jika rusak, maka akan rusaklah seluruh tubuh. Ketauhilah bahwa ia adalah hati”. (H.R Bukhari dan Muslim).

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.