Rumput tetangga memang akan selalu terlihat lebih hijau. Seperti itulah juga yang akan selalu terjadi pada diri kita. Selalu merasa orang lain lebih dan lebih. Selalu tersibukkan oleh pandangan bahwa diri kita kurang dan orang lain lebih. Hum,, mungkin memang begitulah sifat dasar manusia, tidak pernah puas.
Ketika kita melihat ke kanan maka kita lihat wah si A pintar sekali membuat link, sedangkan saya wah jangankan link mencairkan suasana saja susahnya minta ampun. Ketika melihat ke kiri yang kita lihat adalah B dengan segala kelebihannya, cerdasnya, kepintarannya mengolah kata, pemikirannya, dan segala hal lebih dari dirinya. Ketika melihat ke belakang pun ada si C yang penuh dengan prestasi di tengah kesibukan luar biasanya dalam organisasi. Melihat ke depan pun tak luput dari si D yang selalu dikelilingi orang-orang, prbadi yang menyenangkan. Terlalu sibuk kita menoleh hingga lupa, ada diri kita di balik mata kita. Ada diri kita yang berdiri di situ dan menjadi penonton yang akhirnya mengalah sebelum berjuang.
Sesungguhnya setiap orang ‘wah’ yang kita lihat, yang seakan menurunkan semangat perjuangan itu adalah orang-prang yang sudah bisa memaksimalkan potensi yang ada di dirinya. Orang-orang bersyukur yang sadar bahwa dirinya mempunyai sesuatu dan mengembangkan sesuatu itu. Sementara sering akhirnya diri ini membutakan mata dan berkata ah dia mah emang dari sananya udah berpontensi. Akhirnya hanya diam dan tidak berbuat apa-apa. Hanya asyik menjadi penonton yang merutuki diri. Merukutuki nasib. Menjadi orang tanpa syukur.
Hei, diri ini sebenarnya ingin berteriak. Hei, aku ada disini. Aku juga punya sesuatu. Sesuatu yang orang lain tidak punya. Sesuatu yang ketika kamu tau cara memaksimalkannya maka sungguh kamupun bisa seperti orang-orang yang asyik kau pandangi itu. Karena kamu unik. Sungguh setiap manusia itu berbeda, bahkan sampai helaian rambutnya pun.
Kuncinya selalu bersyukur atas apa yang kamu miliki. Dan ekspresi syukur itu adalah memaksimalkan apa yang kamu punya. Mengoptimalkan usaha dimanapun kamu berada. Karena hanya kita yang bisa merubah diri kita dari seorang penonton menjadi aktor yang berlakon. Sungguh setiap manusia memiliki skenario terindah yang sudah di atur oleh Sang Pencipta.